KKN di Desa Penari Versi Lain: Widya Berkenalan dengan Badarawuhi (16)

KINI Widya sudah ada di depan pintu, mengetuknya, mengucap salam, dan kemudian melangkah masuk. Dilihatnya ruang tengah, tempat biasa Ayu ada di sana, menulis laporan, sayangnya, tidak ada Ayu disana. hanya ruangan kosong.

Di teras rumah pun sama, seharusnya Wahyu dan Anto ada di sana, sedang bercanda seputar apa yang mereka lakukan hari ini ditemani asap rokok dari mulut mereka, atau suara Nur yang sedang mengaji, dan Bima yang entah apa yang ia lakukan selama tinggal di rumah ini.

Read More

Hanya Bima, yang masih terasa asing bagi Widya. Sayangnya, malam itu, tak ditemui satupun penghuni rumah ini, apakah Widya terlalu sore untuk pulang, sedangkan yang lain masih sibuk mengurus proker mereka masing-masing bersama warga.

Entahlah. Widya bersiap masuk ke kamar, saat, sekelebat perasaan tak nyaman itu muncul. Perasaan seolah ada yang mengawasi entah darimana, dan menimbulkan rasa berdebar di dada.

Suara tawa ringkik terdengar dari Pawon (dapur) rumah, saat itulah, Widya yakin, sesuatu ada di sana. Sesuatu yang bukan lagi hal baru, ia harus memeriksanya. Saat Widya menyibak tirai, ia melihat Nur, duduk di sebuah kursi kayu.

Matanya menatap lurus tempat Widya berdiri, ia masih mengenakan mukena putihnya seolah-olah, ia baru menunaikan salat dan belum menanggalkan mukenanya, hanya saja, kenapa ia duduk diam seperti itu. “Nur, ngapain?” kata Widya.

Nur masih diam, matanya seperti mata orang yang kosong. Saat itulah, Widya melihat Nur menundukkan kepalanya dengan posisi duduk itu, seakan-akan ia tertidur di atas kursi kayunya. membuat Widya panik, mendekatinya.

Widya menggoyang badannya, Nur bergeming. Ketika Widya mencoba menyentuh kulit wajahnya yang dingin, Nur terbangun dan melotot melihat Widya. Tatapanya seperti orang yang sangat marah.

“Cah ayu” (anak cantik) hal itulah yang pertama Widya dengar dari Nur. Hanya saja, suaranya, itu bukan suara Nur. Suaranya menyerupai wanita uzur. melengking, membuat bulu kuduk Widya seketika berdiri.

Widya berniat pergi, tanganya sudah dicengkeram sangat kuat. “Kerasan nak nang kene,” (betah tinggal di sini). Widya tidak menjawab sepatah katapun. Suaranya mengingatkanya pada neneknya sendiri, benar-benar melengking.

“Yo opo cah ayu, wes ngertos Badarawuhi” (gimana anak cantik, sudah kenal sama penunggu di sini). Widya mulai menangis. “Lo lo lo, cah ayu ra oleh nangis, gak apik” (anak cantik gak boleh menangis).

Matanya masih melotot, pergelangan tangan Widya dicengkeram dengan kuku jari Nur. “Cah lanang sing ngganteng iku ae wes kenal loh kale Badarawuhi” (anak ganteng itu saja sudah kenal sama dia).

“Nur,” ucap Widya sembari tidak bisa menahan takutnya lagi. Suasana di ruangan itu benar-benar baru kali ini bisa membuat Widya setakut ini. “Iling Nur iling” (sadar Nur sadar). Nur tertawa semakin kencang.

Tertawanya benar-benar menyerupai tertawa yang membuat Widya diam takut. “Awakmu gak ngerti, sopo aku” (kamu gak ngerti siapa aku?).

“Mbok pikir, nek gak onok aku, cah ndablek model koncomu sing gowo bolo alus nang kene isok nyilokoi putu ‘ku, aku, sing jogo Nur sampe sak iki, ra tak umbar, Bolo alus nyedeki putuku. Ngerti”

(kamu pikir, kalau tidak ada aku, anak nakal seperti temanmu yang sudah membawa penunggu disini bisa mencelakai cucuku, aku yang selama ini sudah menjaganya, tidak akan ku biarkan mereka mendekati cucuku. Mengerti).

“Nyilokoi nopo to mbah” (mencelakai bagaimana?).
“Cah ayu, kancamu siji bakal ra isok balik. nek awakmu rong sadar, opo sing bakal kedaden, tak ilingno, cah ganteng iku, bakal gowo ciloko, nyeret kabeh nang petoko nang deso iki.”

(anak cantik, satu dari temanmu tidak akan bisa kembali, jika kamu belum sadar, semuanya akan terjadi, ingatkan anak itu, yang sedang membawa petaka jika dibiarkan semuanya akan kena batunya di desa ini).

Setelah mengatakan itu, Nur teriak keras sekali, lalu jatuh terjerembap. Widya menggotong Nur kembali ke kamarnya, menungguinya sampai ia terbangun dari pingsanya.

Benar saja, ia tidak tahu kenapa ia bisa tertidur, mungkin terlalu terbawa ketika salat. Nur bercerita saat di pondok, kalau sudah kudu menikmati salatnya, biasanya sampai ketiduran.

Entah apa yang Widya pikirkan, sampai tiba-tiba ia bertanya hal yang Nur paling tidak sukai. “Sejak kapan bisa lihat begituan?”. Awalnya, Nur salah tingkah, tidak mau cerita, sampai ketika Widya menungguinya, Nur mengatakanya, sejak mondok, ia bisa melihatnya, karena memang harus.

“Gaib itu ada” kata Nur, “Sebenarnya, tiap orang ada yang jaga. Jenisnya berbeda-beda, ada yang jahat, ada yang baik, ada yang cuma mengikuti, ada yang cuma numpang lewat”.

“Awakmu onok sing jogo?” (kamu ada yang jaga?) tanya Widya. “Jarene onok” (katanya ada) ucap Nur, suaranya pelan, sepeti tidak mau menjawab. “Kok jarene” (kok katanya).

“Aku ra tau ndelok Wid, aku dikandani kancaku sak durunge metu tekan pondok, jarene, sing jogo aku, wujud’e mbah dok, mbahku biyen. Aku belum pernah melihatnya langsung, aku dikasih tahu temanku sebelum keluar dari pondok, katanya, wujudnya menyerupai nenekku).

Leave a Reply

Your email address will not be published.