KKN di Desa Penari Versi Lain: Widya Jatuh Sakit selama 3 Hari (11)

WIDYA dan Wahyu membicarakan perilaku aneh Bima. “Yo wes, takono Anton nek ra percoyo, bengi sak durunge aku eroh awakmu nari, Bima asline onok nang kunu, arek’e ndelok tekan cendelo, paham awakmu sak iki. gendeng cah iku.”

(ya sudah, tanya Anton kalau gak percaya, malam sebelum kejadian itu, Bima sebenarnya ada di kejadian, dia cuma lihat kamu dari jendela, paham kamu sekarang, gila itu anak).

Read More

Widya diam lama, memproses kalimat itu, ia melihat Wahyu pergi dengan raut wajah kesal. Malam semua anak sudah berkumpul, Nur ada di kamar, dia sedang salat. Widya di ruang tengah sendirian, sedangkan Ayu, Wahyu dan Anton ngobrol di teras rumah. Bima ada pertemuan dengan Pak Prabu.

Sebelum, suara kidung terdengar lagi, suaranya dari arah pawon (dapur). Untuk mencapai pawon, Widya melewati kamar, di sana Nur sedang bersujud, semakin lama, suaranya semakin terdengar dengan jelas.

Pawon rumah ini hanya di tutup dengan tirai, saat Widya menyibak tirai, ia melihat Nur, sedang meneguk air dari kendi, lengkap dengan mukenanya. Widya mematung, diam, lama sekali, sampe Nur yang meneguk dari kendi melihatnya.

Mata mereka saling memandang satu sama lain. “Lapo Wid” (kenapa Wid?) tanya Nur. Widya masih diam, Nur pun mendekati Widya, sontak Widya langsung lari, dan melihat isi kamar, di sana, tidak ada Nur.

“Onok opo toh asline” (ada apa tah sebenarnya), tanya Nur yang sekarang di samping Widya, ia memegang bahu Widya. Dingin.

Tangan Widya masih gemetaran, sampai semua anak melihat mereka kemudian mendekatinya. “Lapo kok rame’ne” (kenapa kok rame sekali) tegur Ayu. “Gak eroh, cah iki ket maeng di jak ngomong ra njawab-njawab”

(gak tau, anak ini di tanya daritadi gak jawab-jawab). “Lapo Wid?” Wahyu mendekati. “Tanganmu kok gemeteran ngene, onok opo sih” (tanganmu kenapa gemetaran begini, ada apa sih?) tanya Anton.

“Nur, jupukno ngombe kunu loh, kok tambah meneng ae” (Nur ambilkan air gitu loh, kok malah diam saja), perintah Anton. Nur kembali dengan teko kendi yang tadi, dia memberikanya pada Widya, dan Widya meneguknya.

Lalu, tiba-tiba Widya diam lagi, membuat semua orang bingung. Tangan kiri Widya masih memegang teko, sedangkan tangan kanannya, terangkat lalu masuk ke dalam mulut.

Di sana, Widya berusaha mengambil sesuatu. Ada 2 sampai 3 helai rambut hitam, panjang, dan itu keluar dari dalam mulut Widya. Semua yang menyaksikanya, beringsut mundur. Kaget.

Begitu penutup tekonya dibuka, di dalamnya, ada segumpal rambut, benar-benar segumpal rambut dengan air di dalamnya. Nur yang melihatnya langsung bereaksi. “Aku mau yo ngombe teko kunu, gak eroh aku onok barang ngunu’ne” (tadi aku juga minum dari situ, gak tau ada begituanya).

Widya muntah sejadi-jadinya, saat keadaan tegang seperti itu, Anton tiba-tiba mengatakan “awakmu di incer yo Wid, jare mbahku, nek onok rambut gak koro metu, iku biasane nek gak disantet, yo di incer demit.”

(kamu di incar ya Wid, kata mbahku, kalau tiba-tiba muncul rambut. Itu biasanya kalau gak di santet ya di incar makhluk halus). Nur, kemudian menimpali.

“Wid, opo penari iku jek ngetuti awakmu, soale ket wingi aku wes ra ndelok gok mburimu maneh” (Wid, apa penari itu masih ngikutin kamu, soalnya dari kemarin aku belum lihat dia di belakangmu).

Berhari-hari setelah pengakuan Nur itu, membuat Widya semakin waswas. Ia jatuh sakit selama 3 hari, dan selama itu, Widya hanya terbaring di atas tikar kamar. Nur tidak melanjutkan lagi ceritanya, karena katanya ia sudah salah mengatakanya, seharusnya ia menahan cerita itu.

Selama Widya terbaring sakit, ia seringkali di tinggal sendirian di dalam rumah itu. Ada satu kejadian yang tidak akan pernah Widya lupakan. Semua dimulai ketika, ia hanya berbaring di atas tikar, Ayu dan Nur berpamitan akan memulai proker mereka.

Anak-anak cowok juga memulai proker. Mereka masing-masing, seharusnya, tidak ada satupun orang di rumah itu. Tapi, siang itu, terdengar suara sesuatu yang dipukuli.

Hal itu menimbulkan rasa penasaran, suaranya seperti benturan antara lempengan yang keras. Awalnya Widya menghiraukanya, semakin lama, Widya tidak tahan dan akhirnya memeriksanya.

Suara itu terdengar ada di belakang rumah, tepat di samping pawon (dapur), maka Widya pergi ke sana. Saat sampai di pintu pawon, yang terbuat dari kayu, Widya berhenti, di sela-sela pintu, Widya mengintip, alangkah bingungnya Widya.

Melihat di antara pohon pisang, ada seorang bapak-bapak, usianya berkisar antara 50-an, menggunakan pakaian hitam ala orang yang akan berkebun. Ia berdiri di antara pohon pisang.

Matanya tampak mengawasi rumah yang menjadi penginapan Widya selama KKN, lama sekali. Bapak itu berdiri mengawasi penginapan Widya, gerak-geriknya sangat mencurigakan, seperti ingin masuk ke rumah namun, bapak itu ragu-ragu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.