KKN di Desa Penari Versi Lain: Widya Melihat ‘Nur’ Menari (8)

SUNYI, sepi, Nur tidak bersuara di luar bilik, memberikan sensasi kesendirian yang membuat bulukuduk merinding. Setiap siraman air di kepalanya, membuat Widya memejamkan matanya dan setiap ia memejamkan mata, terbayang wajah cantik nan jelita itu sedang tersenyum memandanginya.

Siapa pemilik wajah cantik itu? Kemudian, kidung itu terdengar lagi, Widya berbalik, mengamati. Suaranya, dari luar bilik, tempat Nur berdiri seorang diri. Apakah Nur yang sedang berkidung?

Read More

Pertanyaan itu, menancap keras di kepala Widya. Usai sudah acara mandi di sore itu, di perjalanan pulang, Widya mencuri pandang pada Nur. Matanya mengawasi, seakan tidak percaya, kemudian ia bertanya.

“Nur, awakmu isok kidung jawa ya?” (Nur, kamu bisa bersenandung lagu jawa ya?). Nur mengamati Widya, kemudian, ia diam. Nur pergi tanpa menjawab sepatah katapun dari pertanyaan Widya. Ia seperti membawa rahasianya sendiri, tanpa mau membagi rahasia itu.

Listrik di desa ini menggunakan tenaga genset. Kadi ketika jam menunjukkan pukul 9, lampu sudah mati, diganti dengan petromak, Nur sudah pergi tidur. Hanya tinggal Widya dan Ayu yang masih menyelesaikan progres untuk Proker esok hari.

Widya masih teringat kejadian sore tadi. Sebenarnya, Widya mau cerita, namun bila melihat respons Ayu kemarin, sepertinya ia bakal disemprot dan berujung pada pidato tengah malam.

Di tengah keheningan mereka menggarap progres, tiba-tiba Ayu mengatakan sesuatu yang membuat Widya tertarik. “Mau aku ambek Bima, ngecek progres gawe pembuangan, pas muter deso, iling gak ambek Tapak Tilas, tibakne, gak adoh tekan kunu, onok omah sanggar.”

(tadi aku sama Bima, mengecek progres untuk pembuangan, ketika memutari desa, ingat tidak sama Tapak Tilas, ternyata, gak jauh dari sana, ada sebuah bangunan tua menyerupai sanggar).

Widya terdiam beberapa saat, memproses kalimat Ayu. “Loh, awakmu kan wes reti nek gak oleh mrunu!!” (Loh, bukanya kamu sudah mengerti dilarang berada disana). “Guguk aku” (bukan aku) bela Ayu, iku ngunu Bima sing ngajak.

(jadi yang mengajak awalnya si Bima) jarene, onok wedon ayu mlaku mrunu, pas ditut’i, ra onok tibak ne (katanya ada perempuan cantik, pas diikuti ternyata gak ada). “Lah trus, awakmu tetep ae mrunu!!” (lah terus kamu tetap kesana)

“Cah iki, yo kan aku ngejar Bima, opo diumbarke ae cah kui ngilang!!” (anak ini, kan saya mengejar Bima, apa di biarkan saja anak itu nanti hilang). Perdebatan mereka berhenti sampai di sana, namun perasaan itu tidak bohong.

Widya merasa perasaanya semakin tidak enak. Sejak menginjak desa ini, semuanya terasa seperti kacau balau. Malam semakin larut, Widya beranjak pergi ke kamar, di sana ia melihat Nur, sudah terlelap dalam tidurnya. Ayu menyusul kemudian, berharap malam ini segera berlalu.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki saat Widya melihat apa yang terjadi, bayangan Nur melangkah keluar. Ragu apakah mau membangunkan Ayu, Widya beranjak dari tempatnya tidur, berjalan, mengejar Nur.

Rumah sudah gelap gulita, sang pemilik rumah tampaknya sudah terlelap di dalam kamarnya. Di depan Widya, pintu rumah sudah terbuka lebar, dengan perlahan, Widya melangkah ke sana.

Malam itu sangat gelap, lebih gelap dari perkiraan Widya. Bayangan pohon tampak lebih besar dari biasanya. Sayup-sayup terdengar suara binatang malam, sangat sunyi, sangat sepi.

Dilihatnya ke sana-kemari mencari di mana keberadaan Nur, dan Widya terpaku melihat Nur. Di depanya Nur berdiri di tanah lapang depan rumah. Dia menari dengan sangat anggun, tanpa alas kaki. Nur berlenggak-lenggok layaknya penari profesional.

Widya, termangu, berdiri mematung melihat temanya seperti itu. Ragu, Widya mendekatinya. Tak pernah terfikirkan Nur bisa menari seperti ini. “Nur,” panggil Widya, tapi sosok Nur seperti tidak mendengarkanya.

Ia masih berlenggak lenggok. Sorot matanya beberapa kali melirik Widya. Ngeri, tiba-tiba bulu kuduk terasa berdiri ketika memandangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.