KKN di Desa Penari Versi Lain: Widya Membuntuti Bima yang Berjalan ke Arah Tapak Tilas (17)

SETELAH mendengar itu, Widya hanya mendengar Nur, bercerita tentang pengalamanya selama mondok. Widya lebih memikirkan hal lain. Apalagi, 23 hari, sudah berlalu. Setiap hari, perasaan Widya semakin tidak enak, dimulai dari satu per satu warga yang membantu prokernya mulai tidak datang.

Kabarnya mereka jatuh sakit. Anehnya, itu terjadi di proker kelompok mereka, yang berurusan dengan Sinden. Pernah suatu hari, Widya mendengar secara tidak langsung, kalau ini semua karena Sindenya mengandung kutukan, tapi Pak Prabu bersikeras itu mitos, takhayul, sesuatu yang membuat warga desanya ketinggalan jaman.

Read More

Satu kali, Widya pernah dikasih tahu warga, bila Sinden ini ada yang jaga. Katanya, Sinden ini dulu, sering untuk mandi dirinya, dan dia yang dibicarakan ini, tidak pernah disebut warga, namun yang mencurigakan dari kasus ini adalah, nama Sinden ini, adalah Sinden Kembar.

Sinden kembar. Widya selalu mengulangi kalimat itu. Sinden kembar, membuat Widya semakin penasaran. Alasan kenapa Pak Prabu memasukkan ini menjadi proker adalah, agar air sungai dapat dialirkan ke Sinden ini, sehingga warga tidak perlu lagi jauh-jauh mengambil air ke sungai, yang tanahnya terjal.

Toh, seperti ada yang ganjil. Malam itu, Ayu mengumpulkan semua anak, perihal masalah yang mereka hadapi. Hampir setengah warga yang membantu proker mereka tidak mau melanjutkan pekerjaanya.

Alasanya bermacam-macam, sibuk berkebun sampai badanya sakit semua. Dari semua anak yang punya usul, hanya Bima yang tidak seantusias yang lain. Di malam itu juga, Widya ingat yang dikatakan Wahyu. Setiap malam, Bima pergi keluar rumah, entah apa yang dilakukanya.

Widya, sengaja begadang hanya untuk memastikan, dan ternyata benar, malam itu Bima pergi keluar rumah. Widya masuk kamar Bima, di sana ada Wahyu sama Anton. Yang pertama Widya lakukan, membangunkan Wahyu, meski enggan, Widya terus memaksanya.

Setelah Wahyu benar-benar terjaga, Widya memberitahu kalau Bima baru saja keluar. Wahyu hanya menatap Widya keheranan, “Aku lak wes tau ngomong su” (aku kan sudah pernah bilang jing).

“Lha ya, ayo di tutno, nang ndi arek iku” (lha iya, makanya, ayo kita ikuti, kemana anak itu). “Gawe opo? paling nang omahe Prabu, ndandani tong bambu’ne” (buat apa, palingan dia ke rumah prabu, memperbaiki tong sampahnya yang dari bambu).

“Yo wes mboh” (ya sudah terserah). Widya keluar dari kamar itu, kemudian ia pergi menyusul Bima, sendirian. Bima itu anak cowok yang paling religius, sama kaya Nur, karena mereka memang sudah dekat di kampus.

Tapi, Anton sering cerita, kalau kadang, dia memergoki Bima onani di dalam kamar, dan itu tidak sekali dua kali. Masalahnya adalah, saat Bima melakukan itu, ada suara perempuan.

Widya tidak terima Bima dikatain itu oleh Anton, Widya bertanya darimana dia tahu Bima onani? “Heh, mbok pikir aku ra eroh wong onani iku yo opo?” (kamu pikir saya gak tau bagaimana cowok onani?)

Widya masih diam, mendengarkan penjelasan Anton. “Sing dadi masalahe iku guk Bima onani. Kabeh lanangan pasti tahu onani, aku gak munafik, masalahe, onok suara wedok’e,??” (yang jadi masalahnya itu bukan Bima onani, semua cowok pasti pernah, aku gak munafik, masalahnya, ada suara perempuanya.??)

“Pas tak enteni, sopo arek iku, nek gak awakmu, pasti Ayu nek gak Nur, tapi, ra onok sopo sopo sing nang kamar ambek cah kui” (ketika ku tunggu, siapa perempuan itu, ku kira itu kamu, kalau gak ayu atau nur, ternyata, tidak ada siapa-siapa di dalam kamar sama dia).

“Trus” tanya Widya. “Suoro sopo sing tak rungokno lek ngunu?” (suara siapa dong yang ku dengar waktu itu). “Masalahe, aku wes sering krungu, mesti, onok suoro iku” (masalahnya, aku sudah sering dan selalu dengar suara itu).

Cerita Anton membuat pandangan Widya berubah, dan malam itu, ia melihat Bima berjalan jauh ke timur, arah menuju sebuah tempat yang seringkali membuat Widya merinding tiap memandangnya. Ya, Tapak Tilas.

Widya melihat Tapak Tilas seperti sebuah lorong panjang. Dindingnya adalah pepohonan besar dengan akar di sana-sini, selain medan tanahnya yang menanjak, di depan Tapak Tilas, ada gapura kecil, lengkap dengan kain merah dan hitam di sekelilingnya.

Pak Prabu pernah bercerita, kain hitam adalah nama adat untuk sebuah penanda seperti di pemakaman, namun bukankah warna cerah lebih baik untuk menjadi sebuah penanda, sebelum Widya tahu kebenaran dari warga yang bercerita, bahwa hitam yang dimaksud adalah simbol alam lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published.