Seandainya Saya Wartawan Tempo (Edisi Revisi)

Rp10.000

Penulis: Goenawan Mohamad
Ukuran: 14,5 x 21 cm
Tebal/Berat: 98 hlm/110 gr
Penerbit: Tempo Publishing
ISBN: 978-979-8933-07-9

Category: Tags: , , , , ,

Description

Buku ini tidak hanya berisi hal-hal teknis tentang penulisan beritayang tentu sangat penting bagi seorang jurnalis. Tetapi, yang tak kalah penting, buku ringkas ini juga memberikan “modal moral”: kejujuran, kepekaan, ketelitian, dan sebagainya. Penulis buku ini juga menyajikan kiat-kiat praktis dalam menembus dan mewawancarai narasumber.

Dengan demikian buku ini penting bagi mahasiswa program studi jurnalistik dan para peminat jurnalisme pada umumnya bahkan mereka yang sudah menekuni profesi kewartawanan.

Yoga Iswara Rudita Muhammad yang waktu menulis resensi buku ini kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman angkatan 2016 menyebutkan, apa jadinya kalau berita yang lazimnya kaku dan taat pakem berita lempeng (straight news) disusun ulang sehingga menjadi sebuah laporan nan menarik untuk dibaca?

“Itu sedikit gambaran yang saya dapatkan dari apa yang disebut gaya penulisan feature. Selebihnya, silakan Anda baca buku Goenawan Mohamad yang satu ini,” katanya.

Sudah bukan rahasia lagi kalau Goenawan Mohamad adalah seorang wartawan ulung. Berpuluh-puluh tahun sudah tokoh itu menekuni bidang yang mengangkat namanya, jurnalisme. Namanya kian melambung bersamaan dengan munculnya Tempo, perusahaan pers yang ia rintis bersama mendiang Yusril Djalinus.

Kala itu dia didapuk menjadi pemimpin redaksi. Tempo menelurkan produk berupa majalah berita mingguan (MBM). Bersama Goenawan Mohamad, Tempo menawarkan ide segar untuk diaplikasikan kepada produk jurnalistik masa itu. Tempo memperkenalkan ragam baru dalam menulis berita di jagat jurnalistik Indonesia.

Berita yang lazimnya dikemas dalam bentuk berita lempeng dan kolom, diubahnya menjadi tulisan yang lebih punya “kisah”. Ragam tulisan feature namanya. Perkembangannya bermula dari dunia barat.

Gaya penulisan Tempo yang seperti sekarang tidak muncul begitu saja. Perlu usaha dan riset lapangan yang serbaekstra untuk membikin konsep yang ada menjadi berwujud. Tempo belajar banyak dari Time, MBM kenamaan asal Amerika Serikat yang bermarkas di New York. Dari sini, muncul sebuah anekdot, apakah nama Tempo merupakan nama Time yang disulihbahasakan?

Tulisan berita berbalut kreativitas bersastra tidak hanya menghiasi laporan-laporan GM—panggilan singkat Goenawan Mohamad―melainkan sudah menular hingga ke Catatan Pinggir rubrik esai khusus GM di Tempo. Kumpulan esai di Catatan Pinggir kini bisa ditemukan dalam bentuk antologi yang berjilid-jilid.

Ada banyak jalan guna menyampaikan kebenaran. Kebenaran bisa disalurkan melalui gaya yang lempeng, tetapi bisa pula dengan gaya alternatif: menyampaikan kebenaran secara komprehensif lagi rinci. Soal yang belakangan ini bisa terjawab melalui gaya penulisan feature.

Sebagai ragam dari teknik menulis, feature mencoba menutup kelemahan pada jurnalistik bergaya lempeng yang tumpul dalam mengangkat segi kisah dari sebuah peristiwa. Jurnalisme bergaya lempeng sering abai akan hal-hal yang menarik berpatok pada sebuah peristiwa.

Contoh konkretnya, sebuah berita lempeng dari proses pengadilan seorang nenek yang mencuri di kebun akan menaruh pusat perhatian pada “vonis pengadilan” yang dijatuhkan terhadap terdakwa. Sebaliknya, feature malah mungkin akan berfokus pada sebab musabab yang mendorong nenek tadi terpaksa mengutil.

“Dengan perkataan lain, gaya feature cenderung mengangkat sudut yang berbeda demi mendapat visi yang lebih menarik,” terang Yoga. (*)

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Seandainya Saya Wartawan Tempo (Edisi Revisi)”

Your email address will not be published. Required fields are marked *